Wednesday, 29 June 2011

manajemen operasional

Roti – operasi pembuatan
Contoh 6.1 : Pembuatan Roti
Bagi pimpinan roti, prioritas utama adalah untuk mengerti produk yang dibuat dan langkah proses yang dibutuhkan. Pameran 6.4 A diagram sederhana proses pembuatan roti. Ada dua langkah yang dibutuhkan untuk menyiapkan roti. Pertama yaitu menyiapkan adonan dan membakar balok-balok roti, ini dikenal sebagai cara pembuatan roti. Kedua yakni membungkus balok-balok roti. Berdasarkan ukuran alat pengaduk roti, roti dibuat sejumlah 100 balok. Pembuatan roti menyelesikan 100 balok setiap jam, yaitu siklus jam untuk aktifitas. Pembungkusan membutuhkan hanya 0.75 jam untuk menempatkan 100 balok dalam kardus.

Dari situ kita tahu bahwa pembuatan roti mengalami kemacetan dalam prosesnya. Kemacetan adalah aktifitas dalam proses yang membatasi semua kapasitas proses. Jadi jika kita kira bahwa aktifitas pembuatan roti dan pembungkusan keduanya mengoperasikan jumlah waktu yang sama dalam tiap hari, kemudian roti mempunyai kapasitas 100 balok per jam. Perhatikan bahwa kursus di atas sehari operasi pembungkusan akan di sia-siakan untuk waktu seperempat jam yang mana jumlah roti selanjutnya masih dibuat tapi pembungkusan telah siap pengantongan jumlah selanjutnya. Satu hal yang diharapkan bahwa operasi pembungkusan akan digunakan hanya 75% dari waktu yang telah ditentukan.
Andaikata hanya mempunyai satu operasi pembuatan roti kita sekarang punya dua, seperti yang ditunjukkan dalam pameran 6.4 B. sikus waktu untuk setiap individu mengoperasikan pembuatan roti masih satu jam per 100 balok. Siklus waktu untuk pengoperasian bersama dua garis pembuatan roti yaitu setengah jam. Karena operasi pembungkusan membutuhkan 0.75 jam untuk mengantongi 100 balok, sekarang operasi pembungkusan itu macet. Jika pembuatan roti dan pembungkusan keduanya dioperasikan dalam jumlah jam yang sama tiap hari, akan butuh untuk membatasi berapa banyak roti dibuat karena kita tidak mempunyai kapasitas untuk membungkusnya. Akan tetapi, jika kita mengoperasikan operasi pembungkusan untuk pergantian tiga sampai delapan jam dan pembuatan roti untuk dua pergantian tiap hari, kemudian kapasitas harian tiap harinya akan disamakan pada 3.200 balok (ini mengasumsikan bahwa operasi pembungkusan mulai satu jam setelah operasi pembuatan roti). Kegiatan ini membutuhkan bangunan nilai perpindahan inventaris tiap hari sebagai proses pekerjaan. Pembungkusan akan mengantonginya selama pergantian ketiga. Jadi apa penempatan waktu roti kita?

Solusi
Pada operasi semula dengan hanya proses pembuatan roti tunggal, ini mudah untuk menghitung karena inventarisasi tidak akan berkembang antara pembuatan roti dan proses pengemasan. Dalam kasus melalui meletakkan waktu tidak akan menjadi 1.75 jam. Pada kasus dimana kita menjalankan paket operasi untuk tiga pergeseran, rata-rata waktu tunggu dalam proses inventarisasi butuh untuk dipertimbangkan. Jika keduanya operasi pembuatan roti mulai pada waktu yang sama, kemudian pada akhir jam pertama 100 buah roti pertama dipindahkan dengan segera kedalam pengemasan sedangkan yang kedua 100 buah roti menunggu. Waktu tunggu untuk masing-masing 100 buah roti meningkat hingga pengolahan dilakukan pada akhir detik waktu pergantian.
Dalam kasus ini dimana hukum Little dapat memperkirakan waktu bahwa roti berada dalam proses kerja. Untuk menerapkan hukum Little, kita butuh untuk memperkirakan rata-rata proses kerja antara pembuatan roti dan pengemasan. Selama dua pergeseran pertama, pengembangan invetarisasi dari 0 hingga 1.200 buah roti. Kita dapat memperkirakan rata-rata barang dalam proses hingga periode 16 jam ini hingga 600 buah (setengah maksimum). Lebih dari delapan jam terahir pergantian penyimpanan invetarisasi dari 1.200 buah roti maksimum turun menjadi 0. Lagi rata-rata barang dalam proses adalah 600 buah roti. Ini menyajikan, keseluruhan rata-rata lebih dari periode 24jam yang secara sederhana 600 buah roti. Proses pengepakan terbatas siklus waktu untuk proses 0.75 jam per 100 buah roti (mengasumsikan bahwa beberapa buah roti dipak dalam tumpukan), dan ini adalah ekuivalen diluar tingkat 133.3 tumpukan roti/jam (100/0.75=133.3). Hukum Little menghitung bahwa rata-rata waktu tumpukan roti tersebut merupakan barang dalam proses adalah 4.5 jam (600 buah roti/133.3 tumpukan roti/jam).
Total waktu yang dibutuhkan ada waktu tumpukan roti tersebut dalam proses dan ditambah waktu pengerjaan untuk membuat roti dan proses pengemasan. Keseluruhan waktu kemudian adalah 6.25 jam (1 jam untuk pembuatan roti + 4.5 jam dalam inventarisasi + 0.75 jam per paket).

Operasi Restauran
Contoh 6.2. : Restauran
Pengerjaan toko roti pada apa yang mengarah pada secara terus menerus, berarti bahwa operasi yang diawali dan dijalankan pada tingkat terus-menerus selama keseluruhan waktu merupakan operasi itu. Output proses status terus-menerus disesuaikan dengan pengaturan jumlah waktu operasi yang dijalankan. Dalam kasus toko roti, kita mengasumsikan bahwa roti membuat bekerja untuk tiga pergeseran dan paket selama dua pergeseran.
Restaurant tidak dapat berjalan dalam cara ini. Restaurant harus merespon untuk beraneka macam permintaan pelanggan dari hari ke hari. Selama beberapa waktu puncak, hal tersebut bisa menjadi tidak mungkin untuk melayani semua pelanggan dengan segera dan beberapa pelanggan harus dapat menunggu antrian tempat duduk. Restastauran, karena berbagai macam permintaan adalah poses yang tidak terus-menerus. Pertahankan dalam pikiran bahwa banyak item menu dalam restaurant yang dapat disiapkan. Item yang sebelum dipersiapkan, salad, dan makanan penutup, contohnya, membantu kecepatan proses yang dapat ditunjukkan ketika pelanggan pada restaurant sedang dilayani.
Pikirkan restaurant pada casino yang telah kita bahas lebih awal. Karena hal tersebut penting bahwa pelanggan dapat melayani dengan cepat, manajer telah mengatur management buffet dimana pelanggan dapat melayani diri mereka sendiri. Buffet secara terus – menerus dilengkapi untuk mempertahankan item fresh. Untuk kecepatan layanan, jumlah tetap yang dibebankan untuk makanan, tidak masalah apa yang pelanggan makan. Asumsikan bahwa kita harus merancang buffet kita dengan begitu pelanggan mengambil rata-rata 30 menit untuk mendapatkan makanan dan makan. Selanjutnya, mengasumsikan bahwa mereka khususnya makan dalam kelompok (atau sekelompok pelanggan) dua atau tiga meja. Restaurant memiliki 40 meja. Masing-masing meja dapat mengakomodasikan empat orang. Berapa kapasitas maksimum restaurant ini ?

Solusi
Hal ini mudah untuk melihat restaurant dapat mengakomodasikan 160 orang duduk pada meja pada waktu yang sama. Sebenarnya, dalam situasi ini, hal ini mungkin lebih sesuai untuk mengukur kapasitas pada masa kelompok pelanggan karena ini berapa kapasitas yang akan digunakan. Jika rata-rata kelompok pelanggan adalah 2.5 individu, kemudian rata-rata kegunaan tempat duduk adalah 62.5 persen (2.5 tempat duduk/partai 4 kursi/meja) ketika restaurant menjalankan dalam kapasitas. Siklus waktu untuk restaurant, ketika menjalankan pada kapasitas, adalah 0.75 menit (30 menit/meja 40 meja). Maka, rata-rata, meja menjadi tersedia setiap 45 detik. Restauran dapat menangani 80 kelompok pelanggan per jam (60 menit 0.75 menit/kelompok).
Masalah dengan restaurant ini bahwa setiap orang untuk makan pada waktu yang sama. Manajemen telah mengumpulkan data dan mengharapkan profil berikut untuk kelompok pelanggan yang dating selama makan siang, yang mulai dari 11:30 A.M hingga 1:30 P.M. Pelanggan duduk hanya hingga 1:00 P.M.

Karena restaurant berjalan selama dua jam untuk makan siang dan kapasitas 80 kelompok pelanggan per jam, hal tersebut tidak menampakkan bahwa restaurant tersebut bermasalah. Pada kenyataanya, ada masalah berkenaan dengan aliran pelanggan yang tidak terduga dalam restaurant. Cara sederhana untuk menganalisis situasi untuk menghitung bagaimana kita mengharapkan sistem untuk melihat dalam istilah jumlah pelanggan yang dilayani dan jumlah waktu dalam garis pada akhir pada masing-masing 15 menit interval. Pikirkan hal ini seperti mengambil foto restaurant setiap 15 menit.
Kunci untuk memahami analisis adalah melihat jumlah kumulatif. Perbedaan antara waktu kumulatif tibanya dan kumulatif perginya memberi sejumlah kelompok pelanggan dalam restaurant (tempat duduk pada meja tersebut dan ruang tunggunya). Karena hanya ada 40 menja, ketika perbedaan kumulati melalui waktu interval yang lebih besar daripada 40, bentuk garis tunggu. Ketika semua 40 meja penuh, sistem operasi pada kapasitas; dan, dari perhitungan sebelumnya, kita tahu siklus waktu untuk keseluruhan restaurant adalah 45 detik per kelompok pelanggan pada waktu ini (hal ini berarti bahwa rata-rata meja kosong setiap 45 detik atau 20 meja kosong selama masing-masing 15 menit interval). Kelompok akhir akan butuh untuk menunggu selama kelompok terawal untuk mendapatkan meja, maka diharapkan waktu tunggu sejumlah kelompok dalam garis yang dilipatgandakan dengan siklus waktu.

Analisis menunjukkan bahwa pada jam 12 tengah hari, 10 kelompok pelanggan dalam waktu antrian. Garis ini membentuk 25 kelompok dengan 12:15. waktu tunggu yang lebih singkat hanya 10 kelompok debfab 12:45.
Maka apa yang dapat kita lakukan untuk memecahkan masalah waktu tunggu? Satu gagasan yang mungkin mempersingkat siklus waktu untuk meja tunggal, tapi pelanggan yang tidak sepertinya disibukan dengan waktu makan siangnya kurang dari 30 menit. Gagasan lain yang dapat menambah meja. Jika restaurant dapat menambah 25 meja, kemudian waktu tunggu tidak akan menarik dengan manajemen kasino. Gagasan akhir mungkin menggandakan kelompok pada meja, dengan demikian mendapatkan kegunaan tempat duduk yang lebih tinggi. Pelipatgandaan yang mungkin menjadi sesuatu hal yang lebih sederhana adalah untuk mencoba. Jika 25 keluar dari 40 meja adalah ganda, masalah kita akan terpecahkan.
Perencanaan Transit Operasi Bis
Contoh akhir termasuk sistem logistic. Istilah logistic mengarah pada pergerakaan sesuatu seperti material, orang, atau penyelesaian barang. Contoh kita termasuk rute bis yang dikhususkan satu digunakan pada kampus atau area metropolitan. Analisis yang sama dapat digunakan untuk analisis rute pesawat terbang, rute truk, atau rute kapal. Sama dengan restaurant, rute transit bis tidak berlajan pada waktu yang terus menerus. Dimana puncak tertentu dalam permintaan selama sehari dan malam hari. Pendekatan yang baik untuk diambil, sama dengan yang dilakukan dengan restaurant, adalah untuk menganalisis perbedaan periode waktu yang mewakili tipe yang berbeda pola permintaan yang diletakkan pada layanan. Perbedaaan analisis yang dapat mengarah seperti scenario. Bergantung pada situasi, yang mungkin beralasan untuk mengembangkan solusi tunggal yang mencakup kesemua scenario yang relevan atau satuan solusi untuk scenario yang berbeda.
Rute bis yang besar adalah Balabus, atau “bis turis,” di Paris. Rute yang menyimpulkan semua ketuamaan ketertarikan di Paris. Beberapa pandangan sepanjang rute yang mempesona termasuk Notre-Dame, Louvre, Concrode, Champs-Elysees, the Arc de Triomphe, the Eiffel Tower, dan lainnya.
Pertimbangkan masalah perencanaan jumlah bis yang dibutuhkan untuk melayani rute ini. Sejumlah faktor yang butuh untuk dipertimbangkan. Mari asumsikan bahwa bis tunggal secara tepatnya dua jam untuk garis lintang rute selama puncak arus. Perusahaan bis yang dirancang menunda pada rute maka bahkan melalaui arus lalu lintas yang sibuk, bis dapat tetap pada jadwal. Rute memiliki 60 pemberhentian, walaupun pemberhentian bis hanya ketika penumpang pada bis meminta berhenti atau ketika pengemudi melihat pelanggan menunggu pada tempat pemberhentian.masing-masing bis telah memiliki kapasitas tempat duduk sekitar 50 penumpang, dan 30 penumpang lainnya dapat berdiri. Rute ini selalu sibuk setiap hari karena pengunjung ke kota dan mulai mengunjungi dari pagi hari dan lanjut hingga malam hari. Akhirnya, ototritas transit ingin memberi layanan yang baik dan memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani penampungan pelanggan hingga puncak. Berikut ini analisis situasi.

No comments:

Post a Comment